Selama ini kita sering mengaitkan kepribadian dengan pola asuh, lingkungan, atau pengalaman hidup. Namun, sebuah penelitian terbaru dari konsorsium internasional menemukan lebih dari 1.200 varian genetik yang berhubungan dengan lima dimensi kepribadian utama, atau yang dikenal sebagai Big Five. Temuan ini membuka wawasan baru bahwa faktor bawaan genetik memiliki peran yang lebih luas dari perkiraan sebelumnya.

Apa Itu Lima Dimensi Kepribadian?

Para peneliti menganalisis data dari 46 kelompok studi di berbagai negara. Peserta memberikan sampel DNA dan mengisi kuesioner untuk mengukur lima karakter utama:

  • Openness to experience – keterbukaan terhadap pengalaman baru
  • Conscientiousness – kedisiplinan dan kehati-hatian
  • Extraversion – kecenderungan bersosialisasi
  • Agreeableness – keramahan dan mudah bekerja sama
  • Neuroticism – kecenderungan mengalami emosi negatif

Kelima sifat ini menggambarkan pola pikir, perasaan, dan perilaku yang relatif stabil pada diri seseorang.

Tidak Ada Satu Gen yang Menentukan

Penelitian ini menegaskan bahwa tidak ada gen tunggal yang bertanggung jawab atas kepribadian kita. Setiap varian genetik hanya memberikan pengaruh kecil, tetapi ketika ribuan varian bekerja bersama, efeknya menjadi signifikan. Jadi, DNA bukanlah cetak biru sederhana yang menentukan siapa kita sejak lahir.

Menariknya, pola genetik tertentu tetap konsisten di berbagai kelompok masyarakat. Misalnya, varian yang terkait dengan ekstroversi pada orang dewasa muda di Belanda juga dapat memprediksi kecenderungan serupa pada orang lanjut usia di Amerika Serikat.

Gen Juga Terkait dengan Berbagai Aspek Kehidupan

Penelitian ini menemukan bahwa varian genetik yang berhubungan dengan kepribadian juga terkait dengan kesehatan fisik dan mental, umur panjang, pendidikan, karier, pendapatan, hingga bagaimana orang lain memandang kita. Bahkan, ada kaitan dengan kebiasaan sehari-hari. Varian untuk conscientiousness cenderung membuat seseorang lebih aktif di siang hari, sementara varian untuk openness dan extraversion berhubungan dengan kecenderungan menjadi night owl atau aktif di malam hari.

Selain itu, varian yang terkait dengan neuroticism dikaitkan dengan lebih banyak waktu yang dihabiskan di rumah sakit, sedangkan varian openness berhubungan dengan pendapatan dan keinginan berpindah pekerjaan.

Gen dan Lingkungan Saling Memengaruhi

Gen dan lingkungan tidak bekerja secara terpisah. Keduanya bisa saling memperkuat. Contohnya, seseorang dengan varian genetik openness mungkin lebih cenderung pindah ke kota besar yang kosmopolitan. Lingkungan baru ini kemudian memberikan pengalaman yang semakin memperkuat sifat terbukanya. Jadi, kita tidak pasif menerima pengaruh gen atau lingkungan, tetapi kecenderungan bawaan kita juga memengaruhi pilihan lingkungan yang akhirnya membentuk pengalaman hidup.

Meskipun demikian, temuan ini tidak berarti kepribadian kita sudah ditakdirkan oleh DNA. Pengalaman hidup, pendidikan, sosial budaya, dan kebiasaan tetap berperan besar. Penelitian ini justru membuka peluang untuk memahami lebih dalam bagaimana genetika kepribadian dapat membantu di bidang kesehatan, pendidikan, dan dunia kerja. Dengan pemahaman yang lebih bijak, kita bisa memanfaatkan wawasan ini untuk meningkatkan kualitas hidup.

Reporter: Anisa Wahyuni